Advertise

 
Rabu, 18 Juni 2014

Pabrik Mie Di Sumedang Digerebek

0 komentar
Sumedang News, Sumedang Utara - Badan Penga­wasan Obat dan Ma­kanan (BP­OM) Bandung dan Pol­da Jabar, meng­gere­bek pabrik mie ber­formalin di Ja­lan Pra­bu Gajah Agung, Kelurahan Situ, Ke­ca­matan Su­medang Utara, Selasa (16/­6/­­2014) sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebanyak tiga ton mie berformalin berhasil diamankan di lokasi pabrik tak jauh dengan restoran ìTahu Renyahî “Sebanyak delapan karyawan di pabrik mie tersebut tertangkap basah sedang memproduksi mie berformalin itu,” kata Kasi Pe­nyi­dikan Badan Penga­wasan Obat dan Ma­kanan (BPO­M) Bandung, Siti Rulia ke­pada wartawan. “Sebanyak 62 karung mie ber­formalin itu, terbungkus rapi dan siap untuk dipasarkan,” kata­nya. BPOM dan Polda Jabar, kata dia, menemukan satu karung formalin dan borax seberat 20 kg.
Kadisperindag Kabupaten Sumedang, Asep Sudrajat mengaku sudah menerima informasi terkait pabrik mie berformalin itu. “Disperindag tak bisa gegabah, selanjutnya kami kirim sampel mie dugaan berformalin itu untuk diperiksa di BPOM,” kata Asep.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Martinus Sitompul mengatakan penyelidikan kasus itu sedang dipertajam. “Kami segera melakukan pemeriksaan para saksi dan pemilik pabrik,” katanya.

Sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/13715
Read more...

Kurang Sosialisasi, Perpustakaan Desa Belum Dilirik Warga

0 komentar
Sumedang News, Wado - Selama ini keberadaan perpustakaan desa belum bisa dimaksimalkan. Padahal, sara­na penting seperti perpustakaan desa seharusnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan di berbagai bidang. Selain minim fasilitas pendu­kung, keberadaa perpustakaan desa juga luput disosialisasikan kepada masya­rakat.

“Selama ini memang masya­rakat kebanyakan belum banyak yang tahu adanya perpustakaan di desa. Ya, karena sosialisasinya memang kurang,” ujar Sekretaris Karang Taruna Kecamatan Wado, Rika Rahim Makruf, S.Pd, Minggu (15/6/2014).

Menurutnya, meski pada dasarnya keberadaan perpustakaan desa sangat minim akan koleksi buku dan sarana lainnya, tetapi paling tidak bisa membantu warga terutama para remaja dan pemuda untuk menggali pengetahuan melalui membaca.

“Media-media tempat baca memang sangat minim. Ada­pun perpustakaan desa saya rasa tak pernah dilirik warga. Paling hanya orang yang kebetulan ke desa saja,” tuturnya.

Rika menyebutkan, jika saja perpustakaan desa dikelola dengan baik, akan memberikan kontribusi yang positif dan akan menjadi media berkumpul warga dalam mencari bahan bacaan yang diinginkan.“Harus ada semangat ke arah itu, terutama buat kalangan pemuda. Sehingga desa yang memiliki perpustakaan di kantor desanya tidak sia-sia,” ucapnya.

Rika mengatakan, perpustakaan desa bisa menjadi gerbang pembuka kesadaran membaca warga. Untuk itu Karang Taruna berencana akan menyosialisasikannya dan tentunya akan berupaya melengkapi koleksi buku bacaan terutama buku yang bersifat kewirausahaan.

“Berharap pemerintah juga bisa memperbanyak koleksi buku dan sarana dan prasarana pendukung lainnya. Dan kalau bisa dikelola oleh kelompok pemuda,” tuturnya. 

Sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/13696
Read more...

Eks Ketua Apdesi Sumedang Jadi Tersangka Korupsi

0 komentar
Sumedang, Sumedang News - Mantan Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa (Apdesi) Kabupaten Sumedang Didi Subandi ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumedang. Ta telah ditetapkan menjadi tersangka kasus korupsi program bantuan infrastruktur pedesaan pipanisasi ke puluhan desa di Sumedang.

Didi kini ditahan di Lapas Sumedang untuk memudahkan pemeriksaan yang masih berlanjut. Sebelumnya, Didi menjalani pemeriksaan di Kejari Sumedang, Selasa siang (17/6/2014). Tim pemeriksa sepakat Didi memenuhi unsur tindak korupsi untuk selanjutnya dijadikan tersangka.

Seksi Pidana Khusus Kejari Sumedang Arjuna Budi membenarkan hal ini. Menurutnya, pemeriksaan Didi sudah dilakukan berkali-kali. Pemeriksaan kemarin berakhir dengan penetapan Didi sebagai tersangka.

“Didi Subandi kini statusnya sudah tersangka atas korupsi kegiatan pipanisasi. Untuk memudahkan pemeriksaan lebih lanjut, Didi ditahan di Lapas Sumedang,” kata Arjuna, kepada sejumlah wartawan, Rabu (18/6/2014).

Arjuna menjelaskan, pemeriksaan berawal dari laporan dugaan korupsi kegiatan pipanisasi pada tahun 2013. Saat itu, ada 54 desa di Sumedang yang akan menerima bantuan pemasangan pipanisasi dari Pemprov Jawa Barat dalam Program Fasilitasi Infrastruktur Pipanisasi dengan nilai bantuan Rp 9,3 miliar.

Namun, Didi meminta seluruh kepada desa agar seluruh bantuan tersebut diakomodir oleh dirinya dengan alasan bantuan tersebut datang dari aspirasi anggota dewan di Jawa Barat yang menjadi kenalannya.

Didi juga meminta pembelian pipa dilakukan oleh dirinya. Setiap desa dipotong 65-75 persen dari nilai bantuan atau sekitar Rp 165 juta hingga Rp 225 juta. Namun belum semua desa menerima pipa ini sehingga ada laporan dugaan korupsi.

Setelah kejaksaan memeriksa, ternyata memang baru ada 49 desa yang menerima dan memasang pipa. Sementara, pipa yang digunakan ternyata mempunyai spesifikasi rendah dan tidak sesuai dengan nilai bantuan.

Sampai saat ini, kejaksaan masih mengembangkan pemeriksaan. Tidak menutup kemungkina bakal ada tersangka lain atas kasus ini.

Didi adalah Kepala Desa Palasari, Kecamatan Cimalaka. Didi terpilih menjadi Ketua DPC Apdesi Kabupaten Sumedang pada 2011.

Pada Pileg 2014 kemarin, Didi mencalonkan menjadi anggota DPRD Sumedang dari Partai Demokrat. Sesuai aturan, Didi harus mengundurkan diri dari kepala desa namun belum ditempuhnya dengan alasan ia adalah seorang dosen dan pekerjaan inilah yang didaftarkan ke KPU Sumedang ketika mencalonkan diri.

Didi lalu didesak mundur oleh anggota Apdesi karena selain memang menjadi peserta pileg, Didi juga sudah jarang hadir dalam acara Apdesi. Asosisasi itu lantas membuat mosi tidak percaya. Mei 2014 lalu Apdesi mengadakan Musdalub untuk memberhetikan Didi dan menggantinya dengan Kepala Desa Margalaksa, KEcamatan Sumedang Selatan Andreyansah. [ito]

Sumber : www.inilahkoran.com/read/detail/2110973/eks-ketua-apdesi-sumedang-jadi-tersangka-korupsi
Read more...
Sabtu, 14 Juni 2014

Maling Bongkar Kuburan, Dikira Ada Harta Perhiasan di Dalamnya

0 komentar
Sumedang Selatan, Sumedang News - Seperti biasa, pagi itu Entin (51) menyapu kompleks permakaman Kristen itu. Maklum, Entin adalah petugas kebersihan. Ia hendak menuntaskan pekerjaan menyapu kuburan yang letaknya paling ujung di permakaman Bebedahan, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Sumedang, itu. Permakaman itu berada di lereng Gunung Palasari, tak begitu jauh dari Jalan Raya Sumedang- Bandung.

Namun saat enak-enak menyapu, ia terkejut melihat salah satu kuburan sudah berlubang, seperti bekas dibongkar.
"Saya sedang menyapu dan melihat ada kuburan yang sudah bolong dibongkar serta ada sebilah bambu yang menancap ke dalam lubang. Sehari sebelumnya kuburan itu tidak berlubang," kata Entin di lokasi pemakaman.

"Tadinya saya mau menuntaskan menyapu di kuburan yang paling atas dan hampir semuanya yang baru dikubur tak lebih dari enam bulan," kata Entin di lokasi permakaman, Jumat (13/6).

Di lokasi kejadian ditemukan juga besi yang ujungnya melengkung dan bergagang yang diduga dipakai untuk menggali kuburan. Temuan kuburan yang bolong digali itu segera menyebar. Lubang kuburan itu berdiameter 50 sentimeter dengan kedalaman galian mencapai satu meter lebih.

Penggalian dilakukan di dekat nisan salib dan diduga menggunakan besi yang ujungnya melengkung. Setelah gembur, tanah itu diangkat menggunakan tangan. Pelaku diperkirakan meninggalkan kuburan dengan lubang mengganga tanpa sampai ke peti mati yang dikubur.

"Saya diberi tahu tadi pagi kalau kuburan istri saya ini ada yang membongkar," kata Tulus Nababan (31).

Menurut dia, istrinya, Lestina Sihombing (30), meninggal enam bulan lalu dan dimakamkan di permakaman Kristen Bebedahan. "Kaget juga ketika dikabari ada yang bongkar dan saat datang ternyata kuburnya sudah berlubang," kata warga Kojengkang, Desa Licin, Kecamatan Cimalaka, ini.

Nurhayati (39), yang tinggal di sekitar makam tak jauh dari yang dibongkar, mengaku malam sebelumnya tidak menginap di rumahnya. "Semalam saya tidak menginap di rumah dan baru datang tadi pagi dan dikabari ada yang membongkar makam," katanya.

Nurhayati mengaku sehari sebelumnya tidak menemukan makam yang dibongkar. "Setiap hari makam di kompleks ini dibersihkan dan sehari sebelumnya itu belum ada yang membongkar," katanya.

Ia menanyakan ke keluarga yang dimakamkan apakah ada harta benda atau perhiasan yang ikut dikuburkan. "Ternyata mereka mengaku tidak memasukkan harta benda ikut dikubur karena dalam adat Batak tidak ada," katanya.

Nurhayati menduga maling yang membongkar kuburan itu salah sasaran. "Setahu saya harta perhiasan satu kantong yang dimasukkan ke dalam kuburan itu berada di kuburan sebelahnya," katanya sambil menunjukkan lokasi kuburan yang satu jajaran dengan yang dibongkar.

Diakuinya, saat menguburkan jenazah yang lokasinya tak jauh dari yang dibongkar, satu tas perhiasan dan harta bendanya lupa dimasukkan. "Saat pengurukan tanah itu, ada yang menyebutkan perhiasan dan hartanya belum dimasukkan dan satu tas itu kemudian ikut dikuburkan," kata Nurhayati.

Menurutnya, selama tinggal di kompleks pemakaman itu baru kali ini terjadi pembongkaran kuburan. 

Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2014/06/14/maling-bongkar-kuburan-dikira-ada-harta-perhiasan-di-dalamnya
Read more...

Sabusu Akan Ditukar Dengan Rumah Sakit Tanpa Kelas

0 komentar
Jatinangor, Pemkab Sumedang akan menukar bangunan Saung Budaya Sunda (Sabusu) di Kec. Jatinangor dengan rumah sakit tanpa kelas. Rencana penukaran itu sedang diproses dan diajukan kepada Pemprov Jabar sehubungan pembangunan Sabusu itu bantuan provinsi.

“Jadi, Sabusu yang sudah menjadi aset Pemkab Sumedang akan dikembalikan ke provinsi. Sebagai gantinya, kami mengajukan kepada provinsi pembangunan rumah sakit tanpa kelas di wilayah Kec. Tanjungsari,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kab. Sumedang, H. Agus Rasjidi saat lepas sambut di aula rapat Dinkes Kab. Sumedang di Jln. Kutamaya, Sumedang, Jumat (13/6/2014). 

Lepas sambut, dari pejabat Kepala Dinkes lama Retno Ernawati kepada pejabat baru H. Agus Rasjidi.
Menurut Agus, proses penukaran bangunan Sabusu dengan rumah sakit tanpa kelas itu, hingga kini tengah proses pengajuan penyediaan tanah untuk pembangunan rumah sakit. 

Proses pengajuannya dilakukan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kab. Sumedang.

“Lahan dan bangunan Sabusu dikembalikan ke provinsi, nah kita minta lahan provinsi lainnya untuk rumah sakit. Untuk lokasinya tergantung provinsi, punya tanahnya dimana. Namun, kami menginginkan lokasi lahan untuk pembangunan rumah sakitnya di wilayah Tanjungsari,” ujarnya.

Ditanya alasan memilih Sabusu ditukar dengan rumah sakit tanpa kelas, ia mengaku tak mengetahui pasti alasannya karena kewenangan bagian aset di DPPKAD.

Namun demikian, informasinya pengunaan Sabusu dinilai tak sesuai fungsinya sebagai saung budaya. Keberadaannya justru cenderung dipakai tempat komersil. “Tapi untuk lebih jelasnya, bagian aset yang bisa menerangkannya,” tutur Agus.

Terlepas dari itu, lanjut dia, pembangunan rumah sakit tanpa kelas di wilayah Tanjungsari dinilai penting dan sangat bermanfaat untuk masyarakat. Rumah sakit tersebut akan mendorong pelayanan kesehatan melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

“Oleh karena itu, pembangunan rumah sakit tanpa kelas ini menjadi prioritas. Seiring dengan pelaksanaan BPJS JKN, diharapkan pelayanan kesehatan masyarakat lebih ditingkatkan lagi. Pelayanan rumah sakit negeri harus mampu bersaing dengan swasta,” ujarnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, rencana pembangunan rumah sakit tanpa kelas di Tanjungsari, harus diikuti dengan peningkatan sarana dan pelayanan puskesmas di wilayah Tanjungsari, Jatinangor dan Cimanggung.
Hal itu, untuk mendorong sistem rujukan dari puskesmas ke rumah sakit sesuai prosedur tetap BPJS. Bahkan Dinkes berupaya agar fungsi puskesmas lebih ditingkatkan dengan melayani perawatan. 

Puskesmas dengan perawatan, harus didukung empat dokter spesialis. Bangunan berikut sarana alat kesehatannya harus dibenahi dan dilengkapi lagi. Pelayanannya pun perlu dioptimalkan. 

“Jadi, antara puskesmas dengan rumah sakit bisa sinergis dalam menjalankan program BPJS JKN ini,” katanya.
 
Sumber :http://m.pikiran-rakyat.com/node/285190
Read more...

Agus Rasjidi Jabat Kadinkes Sumedang

0 komentar
Sumedang Kota, Sumedang News - Jabatan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kab. Sumedang diserahterimakan dari Retno Ernawati, S.Sos., M.M. kepada drg. H. Agus Seksarsyah Rasjidi. Serah terima berlangsung di Aula Dinkes, Jln. Kutamaya, Jumat (13/6). Serah terima jabatan dilakukan menyusul mutasi yang dilakukan Bupati Sumedang, Drs. H. Ade Irawan, M.Si. pada 9 Juni lalu.

Retno mendapat tugas baru sebagai staf ahli bidang ekonomi dan keuangan. Sementara drg. H. Agus sebelumnya menjabat sebagai Asisten Administrasi Setda Kab. Sumedang.

Acara lepas sambut dihadiri Asiten Ekonomi Pembangunan, Ir. H. Dede Hermasyah, M.Si., Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja, Drs. Iwa Kuswaeri, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Drs. H. Sonson M. Nurikhsan, M.Si., sesepuh pegiat kesehatan, dr .H. Noeroni Hidayat serta seluruh karyawan Dinkes.

Dalam sambutannya, Retno menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjabat Kadinkes ada kekhilafan atau kesalahan yang tak disengaja. Ia Retno juga berterima kasih pada semua pihak yang telah ikut mendukung menyukseskan berbagai program kerja.

“Mungkin selama saya menjabat sebagai kepala dinas kesehatan ada kesalahan dan kekhilafan. Untuk itu mohon untuk dimaafkan,” ujarnya.

Retno menuturkan, sekitar tahun 1982 dirinya masuk kerja di lingkup Dinas Kesehatan Kab. Sumedang. Dalam rentang waktu sekitar 32 tahun itu dia meniti karier dari bawah. Hingga akhirnya menduduki jabatan eselon IIb sebagai Kepala Dinas Kehatan.

“Karier saya di Dinas Kesehatan mengalir secara alami. Namun tentunya, mutasi ini menjadi penyegaran bagi saya yang selama 32 tahun mengabdi di Dinas Kesehatan. Kini saya harus merasakan atmosfer berbeda. Tetapi di mana pun saya ditugaskan, saya akan bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab,” tandasnya.

Sumber :http://www.klik-galamedia.com/2014-06-14/agus-rasjidi-jabat-kadinkes-sumedang
Read more...
Senin, 09 Juni 2014

KPA Sumedang Akan Gelar Malam Renungan AIDS

0 komentar
SUMEDANG, .-Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kab. Sumedang akan menggelar “Malam Renungan Aids Nasional (MRAN)” di lokasi Pameran Pembangunan Kab. Sumedang di Lapangan Pacuan Kuda, Kelurahan Kota Kaler, Kec. Sumedang Utara, Rabu (11/6/2014) malam nanti pukul 19.00 WIB.

“Kegiatan MRAN ini, di antaranya akan diisi dengan pembacaan petisi oleh sejumlah odha (orang dengan HIV/Aids). Selain itu juga, ada acara tali kasih. Seorang odha, akan dipertemukan dengan keluarganya yang sudah lama berpisah,” kata Pengelola Program dan Monitoring Evaluasi (Monev) KPA Kab. Sumedang, Tita Anarita di Sumedang, Minggu (8/6/2014).

Menurut dia, acara MRAN itu sengaja dilakukan, untuk mengingatkan kepada semua masyarakat Kab. Sumedang, bahwa di lingkungannya ada para odha yang perlu mendapat perhatian. Selain tidak dikucilkan di lingkungan masyarakat, mereka juga harus dirangkul seperti warga lainnya.

“Sebab, mereka juga punya hak hidup dan hak sosial yang sama seperti masyarakat lainnya. Dengan MRAN ini, kami mencoba mengingatkan dan mengetuk hati masyarakat bahwa mereka ada di lingkungan kita. Bisa jadi di lingkungan keluarga kita sendiri atau pun tetangga terdekat kita,” ujar Tita.

Melalui acara tersebut, lanjut dia, diharapkan para odha bisa membuka diri terkait penyakit yang dideritanya. Akan tetapi, masyarakat pun harus sepakat tidak mengucilkan mereka.

Justru sebaliknya, mereka harus dirangkul dengan diajak berkonsultasi dan diimbau senantiasa berobat secara rutin supaya penyakitnya tidak bertambah parah.

“Solusi efektif mencegah meluasnya penderita HIV/Aids, yakni para odha harus membuka diri terkait statusnya. Syaratnya, mereka jangan dikucilkan. Ketika mereka membuka diri, bisa mencegah bahkan memutus mata rantai penularannya kepada orang lain,” tuturnya.

Apalagi penularan HIV/Aids kini memprihatinkan sudah menjangkit kalangan ibu rumah tangga dan balita. Penularannya, dampak berhubungan seks dengan laki-laki berisiko tinggi, bisa dengan suami sendiri yang sering ‘jajan’ di luar. “Oleh karena itu, MRAN ini moment tepat bagi para odha untuk membuka diri,” ujar Tita.

Tita menyebutkan, sebelum MRAN, siang harinya sejumlah PSK (pekerja seks komersial), komunitas waria, LSL (laki-laki senang laki-laki) dan sejumlah LSM, akan melakukan bakti sosial. 

Bakti sosial tersebut, di antaranya para PSK di daerah Kec. Paseh akan membersihkan Puskesmas Paseh. Hal itu wujud kepedulian mereka yang rutin mendapatkan pelayanan dan pengobatan IMS (Inpeksi Menular Seksual). 

Kegiatan lainnya, membersihkan limbah jarum suntik di Puskesmas Jatinangor dan membenahi ruangan klinik khusus HIV/Aids di Klinik Teratai di RSUD Sumedang. 

“Kami pun akan melayani tes HIV, terbuka untuk masyarakat. Kami mohon dukungan masyarakat dan pihak terkait lainnya untuk kesuksesan acara bakti sosial dan MRAN nanti,” ujar Tita. (Adang Jukardi/A-89)
 
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/284452
Read more...
Kamis, 01 Mei 2014

Sebabkan Harga Tnah Langsung Melonjak

0 komentar
SUMEDANG,  - Warga di kawasan jalan yang akan dilalui jalur jalan tembus Sumedang-Tanjungsari-Sukasari-Lembang mengaku sudah tahu rencana pembangunan jalan tembus itu.
Mereka mengaku senang karena, jika jalan tembus itu terwujud, kawasan di hamparan kaki Gunung Manglayang itu bakal ramai.
Pemkab Sumedang sendiri menaksir untuk pembebasan lahan buat jalan temnbus ini dibutuhkan dana Rp 41,5 miliar.
"Senang saja nanti jalan yang lewat ke kampung ini jadi lebar dan tidak kecil seperti sekarang. Kalau ada jalan besar, jadi ramai," kata Ata, warga Talingkup, Desa Kadakajaya, Tanjungsari, yang memiliki sawah di pinggir jalan yang akan dipakai jalan tembus, pekan lalu.
Saat ini, kendaraan yang bisa tembus dari Sukasari-Lembangitu hanya motor dan kendaraan berpenggerak empat roda. "Setiap akhir pekan atau hari libur banyak yang membawa motor trail dan mobil jip untuk offroad," kata beberapa warga.
"Saya akan merelakan lahan ini dibeli pemerintah untuk jalan. Harga sawah sekarang di kampung ini yang berada di pinggir jalan sudah Rp 1 juta per batanya," kata Ata.
Harga tanah memang mengalami lonjakan menyusul rencana jalan tembus Sumedang-Lembang.
"Sebelumnya hanya 250 ribu per bata, kemudian sekarang sudah ada yang menawar Rp 500 ribu. Tapi ketika saya ikut pengukuran, pemerintah juga sudah menghitung biaya pembebasan lahan itu," kata Dudun Suryana, petani kol di Desa Genteng.
Ia mengatakan, warga di Sukasari itu tidak mau melepas tanah bagi warga luar daerahnya. "Warga Sukasari itu hampir semuanya petani dan menggantungkan hidup di lahan yang ada sehingga memilih tidak menjual lahan ke orang luar. Paling kalau dijual ke sesama warga di Sukasari saja," kata Dudun.
Menurut Dudun, setelah ramai rencana jalan tembus ke Lembang itu banyak juga warga yang membeli lahan di pinggir jalan. "Mungkin nantinya ingin membuat warung atau rumah makan. Warga juga ingin menikmatinya dengan ada jalan tembus ini," kata tokoh tani di Sukasari ini.
Para petani sayuran juga mengakui adanya jalan tembus itu bakal memudahkan memasarkan hasil pertanian. "Sekarang ini kan kendalanya jalan sebagai transportasi mengangkut hasil bumi," kata Sobana (63), petani tomat.
Menurut Sobana, butuh ongkos yang besar untuk mengangkut hasil pertanian ke Bandung. "Kalau ada jalan ke Lembang, tentu bisa menjadi lebih dekat dan menjual hasil pertanian bisa ditampung serta dijual dengan kelompok tani di Lembang," katanya.
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
Read more...
Jumat, 11 April 2014

Untuk Meningkatkan Kualitas SDM Pontren Didik Sabtri Agrobisnis

0 komentar
Jatinangor, Sumedang News - Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM), ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Hasanah di Dusun Sukaluyu Desa Sukarapih Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang mendapatkan pendidikan dan pembinaan wawasan tentang agrobisnis pertanian, perikanan dan life skil. Untuk itu, para santri tak hanya membiasakan diri membaca al quran, penambahan wawasan tentang pengetahuan umum pun sangat dibutuhkan.

Hal itu disampaikan Pimpinan Pontren Miftahul Hasanah, K.H. Asep Sofian Rahmat kepada wartawan, Kamis (10/4/14). Menurut Asep, para santri dalam setiap harinya dibekali

pendidikan keagamaan. Di antaranya pembelajaran tauhid, fiqih, alquran dan hadist, thasohuf, ilmu alat (jurumiah, alfiah, sorof, istiarah, jauharmaknun, tahfizdiah).

"Pendidikan tentang pembelajaran sastra bahasa arab, life skil meliputi pelatihan komputer, agro bisnis perikanan dan pertanian menjadi perhatian kami," katanya.

Menurutnya, lembaga pendidikan pondok pesantren itu merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya sumber daya manusia (SDM) berahlakul karimah.

"Lebih dari 200 santri yang saan ini menjadi binaan kami. Mereka menetap di pondok pesantren," katanya.
Selain lembaga swasta, kata Asep, pemerintahan pun, seperti Koramil Tanjungsari, juga turut membantu meningkatkan kualitas pendidikan para santri, khususnya memberikan pemahaman ilmu pertanian dan pengetahuan umum. Di antaranya melaksanakan pelatihan di bidang pertanian dan perikanan. "Pemberdayaan itu dinilai sangat penting, karena lokasi pontren berada di kawasan pertanian," ucapnya.
Di lingkungan pontren itu, dikatakan, terdapat santri salapiah (khusus mendalami ilmu keagamaan) dan santri kholafiah (nyambi sekolah umum).

Diharapkannya, dengan menerapkan berbagai pendidikan di lingkungan pontren itu, mereka mampu mengimplementasikan ilmu terkait pertanian dan perikanan di tempat sesuai domisilinya. Selain pendidikan keagamaan yang sebelumnya mereka perdalam.

"Yang menjadi harapan kami sebagai pengelola pondok pesantren, dapat mencetak santri berahlakul karimah sekaligus memiliki ilmu di bidang pengetahuan umum," harapnya.

Sejumlah santri yang ada di pondok pesantren itu, mengaku merasa bangga bisa mengenyam pendidikan keagamaan dan pengetahuan umum lainnya. Seperti halnya diakui Milah (20). Dia pun mengaku nyaman mengikuti pendidikan keagamaan di lokasi pondok pesantren tersebut.

"Saya merasa nyaman bisa mengikuti pendidikan di sini. Apalagi, pontrennya berada di sekitar kawasan pertanian dan jauh dari perkotaan," akunya.

Setelah mengikuti pendidikan di lembaga keagamaan itu, dia pun memiliki keinginan untuk menyampaikan pendidikan yang sudah diraihnya kepada warga lainnya yang ada di kampung halamannya di Jawa Tengah. "Supaya bermanfaat," pungkasnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/pontren-didik-sabtri-agrobisnis
Read more...

Demo Mahasiswa Tuntut Perbaikan Jalan di Sumedang

2 komentar
Sumedang News - Sedikitnya 50 orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kab. Sumedang di bawah naungan Aliansi Mahasiswa Sumedang (AMS), berdemontrasi di gedung Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Pemkab Sumedang Jln. Prabu Gajah Agung, Sumedang, Kamis (10/4/2014).

Mereka menuntut Pemkab Sumedang segera memperbaiki semua ruas jalan di wilayah Kab. Sumedang yang rusak parah, terutama di jalur jalan nasional dari Jatinangor sampai Tomo. Selain itu, kaum intelektual tersebut mempertanyakan fungsi jembatan timbang di Kec. Tomo yang meloloskan begitu saja kendaraan angkutan berat yang melebihi tonase jalan.

Akibatnya, jalan nasional di Jalan Raya Bandung-Cirebon dari Jatinangor sampai Tomo, kondisinya hancur. Kerusakan jalan tersebut akibat setiap harinya dilewati kendaraan angkutan berat yang melebihi tonase jalan dari arah Cirebon menuju Bandung.

Dalam aksinya, puluhan mahasiswa melakukan orasi secara bergantian seraya menyuarakan yel-yel perjuangan mahasiswa. Mereka juga membentangkan sejumlah spanduk besar berisikan kecaman terhadap kondisi jalan rusak di Kab. Sumedang. 

Salah satunya, bertuliskan “Larang Kendaraan Bertonase Berlebih, Stop Eksplorasi Tampomas dan Pungli di Jembatan Timbang. (Jalan Ruksak, Leuweung Ruksak, Rakyat Balangsak, Cilaka Euweuh Nu Tanggungjawabna)”.

Dalam aksi demo itu pun, para mahasiswa menyerahkan uang koin senilai Rp 1 juta kepada Pemkab Sumedang. Uang itu diterima secara simbolis oleh Asisten Pembangunan, Dede Hermasah didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Sujatmoko. 

Pemberian uang koin tersebut, sebagai bentuk keprihatinan mereka terhadap kerusakan jalan di Kab. Sumedang. Mahasiswa “menyumbangkan” uang itu untuk memperbaiki jalan rusak.

Menurut Koordinator Lapangan (Korlap) aksi demo AMS, Moch. Dzikri, aksi demo tersebut dilatarbelakangi karena kondisi jalan di wilayah Kab. Sumedang umumnya rusak parah. Bahkan jalan nasional di jalur Jalan Raya Bandung-Cirebon dari Jatinangor sampai Tomo, kondisinya hancur. 

“Jalan rusak, jelas mengganggu kepentingan masyarakat umum, terutama para pengguna jalan. Dampak lainnya, perekonomian masyarakat terhambat, kemacetan parah dan menimbulkan kecelakaan lalu lintas hingga mengancam nyawa para pengguna jalan,” katanya.

Namun demikian, lanjut Dzikri, hasil audiensi dengan Pemkab Sumedang, mahasiswa bersama Pemkab Sumedang akan berangkat ke Gedung Sate, Bandung untuk mempertanyakan kepada Pemprov Jabar terkait tidak berjalannya Peraturan Gubernur (Pergub) No. 22 tahun 2010 tentang Pembatasan Tonase Kendaraan Angkutan Berat. 

Akibat pergubnya tidak diterapkan, sehingga kendaraan angkutan berat yang melebihi tonase jalan, dengan bebasnya melewati jalan nasional di wilayah Kab. Sumedang. Dampaknya, jalan nasional dari Jatinangor sampai Tomo rusak parah.

“Kami akan mengawal pergub tersebut. Kami juga akan mencatat janji Pemkab Sumedang yang akan mengajak mahasiswa pergi ke kantor Pemprov Jabar untuk mempertanyakan pergub tersebut. Kami pun akan mendesak provinsi supaya menerapkan pergub,” ujar Dzikri.

Di hadapan puluhan mahasiswa, Asisten Pembangunan Pemkab Sumedang, Dede Hermasah mengatakan, kerusakan jalan nasional dari Jatinangor sampai Tomo, akibat sering dilalui kendaraan angkutan berat yang melebihi tonase jalan serta tingginya volume kendaraan. 

Pemkab Sumedang sudah berupaya menangani masalah itu, hingga akhirnya keluar Peraturan Gubernur No. 22 tahun 2010 tentang Pembatasan Tonase. Dalam Pergub disebutkan, kendaraan angkutan berat yang melintasi jalan nasional maksimal 8 ton dan panjang kendaraan maksimal 12 meter. 

“Namun sayangnya, pergub tersebut sampai sekarang tidak berjalan. Akibatnya, kendaraan angkutan berat yang bebannya melebihi 8 ton dan panjang 12 meter, hingga kini masih melintas di jalan nasional sehingga menyebabkan jalan rusak,” katanya.

Akan tetapi, dikarenakan penanganan jalan nasional bukan kewenangan Pemkab Sumedang melainkan pemerintah pusat dan provinsi sehingga Pemkab Sumedang hanya bisa mendesak kepada provinsi untuk menerapkan pergub tersebut. 

“Kami siap bersama para mahasiswa untuk menggedor pihak Pemprov Jabar supaya menerapkan pergub. Kami siap mendatangi kantor provinsi bersama mahasiswa,” ujar Dede.

Ditambahkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kab. Sumedang, Sujatmoko. Ia mengatakan, pihaknya siap bersama mahasiswa untuk mempertanyakan kepada provinsi terkait tidak berjalannya pergub, sekaligus penanganan kerusakan jalannya. 

“Saya siap gabung sekaligus sangat mengapresiasi kepedulian para mahasiswa. Kalau bukan oleh kita, oleh siapa lagi? Kita bersama-sama akan mempertanyakan, kenapa kendaraan angkutan berat yang melebihi 8 ton dan panjang 12 meter, bisa masuk. Anu ruksak jalan nasional, urang nu katempuhan. (yang rusak jalan nasional, kami yang kena getahnya),” ucap Sujatmoko dihadapan para mahasiswa.
 
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/277304
Read more...
 
Copyright © 2012 - 2014 Sumedang News. Supported by Agar Blog Berada di Halaman Pertama Google